Senin, 21 Juli 2014

Mengibarkan Panji TWI DI Pusat Karang Dunia




Catatan Kaki Sam Asiku, S. Sos, MMG 
Dari Togean Island (Coral Triangle World)



    Kamis 17 Juli 2014 Bertepatan 19 Ramadhan 1435 H adalah catatan waktu yang patut dituangkan dalam cetakan emas sejarah pengembangan Paguyubanan Seni Beladiri Pernapasan Tapak Wali Indonesia (TWI) di belahan Tengah Sulawesi .




  


Ketika langkah berarah ke Benteng
    Sembilan warga Tapak Wali Indonesia kabupaten Tojo Unauna, Ketua Bidang Pengembangan Sam
Kapal yang membawa warga TWI Ke Benteng
Asiku, S.Sos, MMG, Korlap Kramat Ampana Faruk Mardjun, MMG, Bendahara Lapangan Kramat Ampana  Sugiono H. Mukani, ST, MMG,  bersama tim pelatih masing-masing Erwin Panape, Armin TS Bullah, Welas Supriyitno, Syahril, Windy Sam Asiku, S.Pd, Ulfiah Hulopi, merupakan rombongan pertama sejak pukul 8 pagi berada dibibir pantai Ampana menunggu keberangkatan kapal kayu bertonase 25 Ton dengan kapasitas penumpang 80 orang, yang akan membawa mereka menuju Desa Benteng dikepulauan  Togean Kabupaten Tojo Unauna Sulwesi Tengah.
    Namun jam keberangkatan mereka bergeser dan olah gerak kapal terjadi pada pukul 11.00 (wita). Udara cerah, laut tenang hanya riak kecil, ketika penghuni laut dan beberapa ekor camar berinteraksi dipermukaan air laut biru.

      
Mereka yang bertarung dengan badai
Sementara Rombongan kedua, bidang Pelatihan Lapangan Kramat Ampana masing-masing Fauzhiyanto Almugni, MMG,  Moh Amin Lasawedi, Rahman dan Barends rencana akan menyusul dengan perahu sampan yang didorong mesin ketinting 2 kali 5 PK  pada pukul 14.00 wita nanti.

     Kapal yang ditumpangi sembilan warga TWI sudah menghilang dari padang setelah keluar dari tanjung api. Kapal motor kayu yang tidak memiliki nama tenang membelah  teluk Tomini dan akan bongkar muat  dibeberapa pelabuhan.  
    Ketenangan alam hingga pukul 16.00 kapal, ketika 1 jam pelayaran lagi akan berlabuh dipelabuhan
Hujan lebat menyambut warga TWI di Desa Benteng
Benteng. Sepasang gunung Benteng yang yang berdiri kokoh dari kejauhan terlihat samar karena diliputi tirai hujan yang cukup deras. Angin cukup kencang menerpa dari arah haluan kapal. Udara terasa dingin diikuti siraman hujan yang membuat penumpang yang berada diatas kap kapal harus turun kebawah.
Perlahan nakoda merapatkan kapal, dan penumpang mulai turun namun bertahan dijembatan dermaga yang beratap, terjebak oleh curah hujan yang lebat.


Desa Benteng yang menyimpan banyak kisah.
Diwaktu santai diisi baca quran dan bertasbih
    Desa Benteng yang dilatari gunung tertinggi di kepulauan Togean adalah  kawasan yang
menyimpang peradaban masa lalu, banyak  cerita tentang para raja dengan beberapa catatan perang diantaranya perang Tobelo.
   Dibawa hingga puncak Benteng menyimpan aroma harum sejarah para wali dan para aulia.  Dekat perkampungan beberapa makam yang masih terawat baik menurut penuturan warga setempat,  menyimpan jasat para pejuang yang ternama pada jaman itu. Bahkan menurut penuturan masyarakat setempat, beberapa makam menyebar dikaki gunung dan pinggiran desa adalah makam mereka yang konon  memiliki kemampuan tinggi serta dikeramatkan, berasal dari luar daerah seperti Sulawesi Selatan dan Ternate. 

Ustaz Ruslan dan Son Mantan Kades Benteng
Ketika kaki menginjakan tanah Benteng  
Kendati hujan masih deras, tetapi rombongan berarah kerumah Ustadz Ruslan, satu-satunya warga Tapak Wali Indonesia dikawasan Togean. Ustaz Ruslan adalah Tokoh masyarakat dan agama, sekilas memandang wajahnya cukup angker karena dihiasi jenggot lebat yang sebagian sudah memutih namun menyimpan keteduhan bagi yang memandang dan mendengarkan tutur katanya.
Ustaz Ruslan adalah Pigur yang yang sederhana, namun dirinya ibarat rak buku yang memiliki berbagai refrensi tentang ilmu agama tak diragukan. Baru 4 tahun mengabdikan diri di desa Benteng, yang menurut pengakuannnya adalah kehidupan baru yang damai. justru kondisi alam Benteng membuatnya hanyut meninggalkan hinggar binggar kehidupan dunia yang sibuk, diseputaran pusat pemerintahan provinsi Sulawesi Tengah.
    Rumah yang merupakan hunian asri diatas laut membawa suasana damai  dan keramahan, yang membuat rombongan TWI Ampana bagaikan tinggal dirumah sendiri. Ditempat ini terasa persaudaraan yang hakiki, dimana saat ini perkembangan zaman menghalau manusia pada kesibukan dan peradaban dengan mobilitas kehidupan yang semakin memprihatinkan, hingga lebih mengemuka pola kehidupan individual.

Ketika Azan Magrib berkumandang
Jarum jam bergeser dari jam 18.00 lebih 6 menit, setengah jam yang lalu listrik desa baru dinyalakan.
Buka puasa di Desa Kabalutan
Azan magrib berkumandang sayup dari mesjid sekitar 150 meter dari rumah Ustaz Ruslan.  Hidangan buka puasa dan makan dengan menu ikan segar meneteskan air liur memandang, mulai dicicipi. Dilanjutkan dengan sholat magrib berjamah dipimpin oleh tuan rumah. Korlap Faruk Mardjun, MMG dan Sugiono Mukani, Windi dan Ulfiah serta Armin menyeberang  ke desa Kabalutan. Diperkirakan mereka  buka puasa dalam muhibah mereka didesa yang padat penduduk tersebut. Namun ketika makan malam semua warga berkumpul kembali.

Banyak cerita dan dialog menunggu sholat isya dan Taraweh, empat  jam kedepan akan dilaksanakan sosialisasi tentang Paguyuban Seni Beladiri Pernapasan Tapak Wali Indonesia, yang akan dirangkaikan dengan giat penerapian gratis pada masyarakat setempat.

Mereka yang tertinggal diantara badai
Bunyi khas mesin ketinting terdengar semakin dekat membela kekegelapan malam ketika masuk teluk Benteng. Kepekatan malam memunculkan cahaya senter yang mengarah kerumah Ustatz Ruslan, dan dugaan itu benar. Empat warga TWI yang berusaha berangkat pukul 14.00 wita, melewati pergulatan dengan badai dan gelombang laut.  Selama beberapa jam terobang-ambing diatas laut nyaris  kehilangan arah. Jarak padang semakin sempit karena dikelilingi kabut putih selama beberapa. Perahu yang hanya didorong dua mesin ketiting berkavasitas 5 PK harus bergulat dengan gelombang dan arus laut. Moh Amin sang Nakoda tenang menaklukan nyanyian alam yang menghentak-hentak. Hingga perlahan sampan keluar dari lingkaran badai. Luar biasa penerangan dalam kegelapan badai hanya  lampu senter kecil yang dibawa Rahman. Ketegangan meredah disimpan menjadi kisah perjalanan pengembangan Tapak Wali Indonesia di Kepulauan Togean. Masa kritis pelayaran terlewati, mulai terdengar suara meskipun Keempat warga TWI basah kuyup  diserang dingin. Namun semangat perjuangan terus menghangatkan rasa dalam diri. Bekal buka puasa tak sempat dicicipi kerena kondisi gelombang kadang membuat detak jantung berhenti. Kami membatalkan puasa hanya  minum air aqua saja, makan kami sulit karena kondisi perahu tidak memberi peluang untuk kami membuka rantang. Seperti diungkapkan Barens.  


Antusias menjadi calon warga TWI
    Ingin sembuh silahkan diterapi...mau sehat silahkan masuk lapanangan Adalah kata kunci penutupan giat sosialisasi TWI malam itu. Berbagai keluhan penyakit dilayani dengan sabar, bahkan ada yang sempat mencurahkan isi hati tentang gangguan rumah tangga.
    Namun semua bisa saja ditangani, atas izin sang pencipta. Sebagaimana kehidupan manusia selalu
Suasana penerapian calon warga
dianugerahi kejadian yang berpasang pasangan. Yakin atau tidak bahwa setiap masalah pasti ada solusi demikian pula,  adanya penyakit pasti ada obatnya. Kunci segalanya adalah keyakinan kesabaran dan ilmu sekedar  mengapai pinta dan permohonan terjawab oleh  peguasa Alam semesta yang menguasai roh.
   Kegiatan sosialisasi dan penerapan hingga dini hari, saat peringatan sahur dari mesjid memecahkan keheningan malam yang sepih di desa Benteng.


Ketika Lapangan Benteng dibuka
   Hingga Sabtu Malam (18/6/2014) lapangan yang disiapkan masyarakat  untuk  tempat gerak mulai dipenuhi masyarakat. Malam ini prosesi pembukaan dan pemagaran lapangan dilakukan oleh  13 warga TWI.
   Empat sudut ditempati warga TWI berbaju hijau. Diantarai beberapa warga berkostum hitam dililit beberapa warna sabuk dipinggang kebesaran Tapak Wali Indonesia.
  
    Formasi lapangan otomatis terbentuk hingga puluhan calon warga memasuki lapangan gerak dikaki gunung Benteng. Aroma harum tiba-tiba menyerbak dalam lapangan, beberapa hasil jempretan kamera menjajikan fenomena gaib tertangkap lensa. Menimbulkan tanya yang melihatnnya.
   
    Dua jam lebih beberapa menit kegiatan gerak selesai, beberapa masyarakat  dipenghujung waktu
minta diterapi. Desa Benteng kembali gelap pada jarum jam menunjuk pukul sepuluh malam. Namun semua berakhir beberapa calon dan masyarakat kembali mengunjungi rumah Ustaz Ruslan untuk melakukan dialog dan ingin memperlancar  gerak pengendalian satu.
    Tak terasa  waktu waktu terus bergulir bersambung dengan waktu sahur malam kedua di Benteng, momentum mempererat silaturrahmi warga TWI dengan masyarakat setempat.

Malam kedua Gerak
   Kesepakatan keberangkatan ditangguhkan guna pemantapan gerak calon malam kedua bertambah jumlahnya.  Usai sholat Taraweh tepat pukul 8.00 malam gerak lapangan dikomdani oleh Fauzhiyanto mulai digelar.   Malam kedua itu, pola gerak kloter lebih efektif diterapkan oleh Korlap Kramat Ampana Faruk Mardjun, MMG. Yang membuat calon tak ingin berhenti, namun waktu jua yang harus mengakhiri kegiatan malam.

Ketika Warga Berarak Pulang
Semoga bersua kembali dalam catatan perjalanan yang lain...
Rombongan kecil diketuai Fauzhiyanto berangkat jam 06.00 pagi, sementara Rombongan lainnya harus diantar oleh perahu tempel milik kades Benteng dan Ustaz Ruslan kedesa Kabalutan, karena hari ini tidak satu kapal mampir dipelabuhan Benteng.
Pukul 11.00 wita kapal Motor Awan menaungi langit kepuluan Togean menghalangi panas alam. Kapal kayu Dua Putera berbobot 20 Ton yang dinakodai Man melaju ke Ampana.
Memasuki pelabuhan Ampana
hujan kembali turun dengan lebat menyalami kedatangaan warga Tapak Wali Indonesia... dipelabuhan Labuan berpisah menuju rumah masing-masing bersua kembali dengan keluarga tercinta, semoga bertemu dalam kunjungan berikut guna pemantapan TWI di Kepulauan Togean...aamiin...









 Flying The Flag TWI World Center Reef
By : Sam Asiku, S.Sos, MMG 


Thursday, July 17, 2014 Coinciding 19 Ramadan 1435 H is a time that should be poured into molds gold history of the development of Martial Arts Breathing Paguyubanan Guardian Tread Indonesia (TWI) in parts of Central Sulawesi.



When the directional move to Fort

     Indonesian mayor Tread nine districts Unauna Tojo, Head of Development Sam

The boat carrying residents to TWI Fortress
Asiku, S. Sos, MMG, coordinator Kramat Ampana Faruk Mardjun, MMG, Treasurer H. Field Kramat Ampana Sugiono Mukani, ST, MMG, with each team coach Erwin Panape, Armin TS Bullah, Mercy Supriyitno, Syahril, Windy Sam Asiku , S. Pd, Ulfiah Hulopi, the first group since 8am waiting to be dibibir beach Ampana departure tonnage 25 ton timber ship with a passenger capacity of 80 people, which will bring them to the village of Fort dikepulauan Togean Tojo Unauna Middle Sulwesi.

     But the hour of their departure motion if the ship shifts and occurred at 11:00 (pm). Air sunny, calm sea only a small ripple, when the inhabitants of the sea and some gulls tail interacts blue sea water surface.

   

Those who fought with the storm
While the second group, Field Training field Kramat Ampana each Fauzhiyanto Almugni, MMG, Mohammad Amin Lasawedi, Rahman and Barends plan will be followed by a sampan boat engine driven motorized 2 times 5 PK at 14:00 pm later.

      Ships carrying nine TWI has disappeared from the field after getting out of the fire cape. Wooden boat that does not have a name calm bay Tomini splitting and loading and unloading will be in some harbor.

     Natural serenity ship until 16:00, when the 1 hour cruise will again be anchored in port

Heavy rains TWI welcomes residents in the village of Castle
Fort. A pair of mountain fortress that stands firmly in the distance faintly visible as a curtain covered a fairly heavy rain. The wind is quite strong hit from the bow of the ship. The air was cold followed the rain that makes the passengers who were on the hood of the ship must go down.

Nakoda Slowly tighten the ship, and the passengers began to fall but remained on the bridge piers were roofed, trapped by heavy rainfall.

Fortress village that holds many stories.

At a time when casual filled read quran and celebrate

     The fortress village against the backdrop of the highest mountains in the archipelago is an area Togean

Chatter past civilizations, many stories about the king with some of them war Tobelo war record.

    Brought up to the top of the castle keep fragrance history of the guardians and the aulia. Near the village several well-preserved tomb narrative according to local residents, save jasat famous fighters of his time. In fact, according to the narrative of the local community, some tombs spread at the foot of the mountain and the outskirts of the village is the tomb they are said to have high ability as well as sacred, comes from outside the region such as South Sulawesi and Ternate.

Ustaz Ruslan and Son Kadesh Former Citadel

When foot stepped on the ground Fortress

Although the rain was heavy, but the group home trending Ustad Ruslan, the only Indonesian citizens Guardian Tread Togean region. Ruslan is ust Community and religious leaders, seems to see his face haunted enough for the most decorated heavy beard had turned white but keep the shade for a look and listen to his speech.

Ustaz Ruslan is Pigur that simple, but he is like a bookshelf that has various references no doubt about the science of religion. New 4-year devote themselves in the village castle, which according pengakuannnya is a peaceful new life. Fortress natural conditions make it float left hinggar binggar life hectic world, diseputaran Central Sulawesi provincial government center.

     The house is a beautiful residential above sea carries an atmosphere of peace and friendliness, which makes the group TWI Ampana like to stay at home alone. This place feels essential brotherhood, which dispels the current era of human development in the busyness of life and civilization with mobility increasingly alarming, to be raised pattern of individual life.

When the Maghrib Azan reverberate

Clockwise shift of 18.00 over 6 minutes, half an hour ago a new village power is turned on.

Iftar at the Village Kabalutan
Maghrib Azan faint of mosques reverberate around 150 meters from the house Ustaz Ruslan. Iftar dishes and fed with fresh fish menu drooling look, start tasting. Followed by berjamah afternoon prayer led by the host. Faruk coordinator Mardjun, MMG and Sugiono Mukani, Windi and Ulfiah and Armin Kabalutan cross into the village. Estimated their Iftar in their goodwill is densely populated villages. But when dinner is all residents regroup.

Many stories and dialogue to wait evening prayers and Taraweeh, four hours ahead will be implemented socialization of Martial Arts Respiratory Society Guardian Tread Indonesia, which will be coupled with a vigorous free penerapian the local community.

They were left behind between storms

Distinctive engine sound sounds closer ketinting kekegelapan defended fort night when entering the bay. Concentrations night light led flashlight led home Ustatz Ruslan, and the allegations were true. TWI four people who tried to leave at 14:00 pm, passing through the struggle with the storms and ocean waves. For several hours terobang blindly above sea almost lost its way. Distance fields significantly smaller due to fog surrounded the white for some. Boats are only two engine driven ketiting berkavasitas 5 PK must wrestle with the waves and ocean currents. Mohammad Amin calm Nakoda conquer the natural singing pounding. Slowly until the boat out of the circle of the storm. Incredible lighting in the dark storm only brought a small flashlight Rahman. Tensions meredah stored into the journey of development Tread on Wali Indonesia Togean Islands. Critical period elapsed voyage, began to sound even though four people attacked TWI drenched cold. But the struggle continues to warm the spirit in the sense of self. Provisions do not have time to break the fast because they sampled wave conditions sometimes made ​​heartbeat stops. "We break the fast only drinking water aqua course, eating is difficult because of the condition of the boat we did not give us the opportunity to open the basket." Barens As disclosed.

Prospective residents enthusiastically into TWI

     "Want to heal simply want to be treated ... healthy lapanangan please enter" keyword is actively socializing TWI closing that night. Various diseases are served with patient complaints, and some even had time to put our hearts on domestic disturbance.

     But all can be handled, with the permission of the creator. As human life is always

Atmosphere penerapian prospective residents
awarded a couple pairs of events. Sure or not that every problem there is a solution as well, there must be a cure disease. The key to everything is patience and belief science and application pleaded mengapai just missed by the government for control of the spirit universe.

    Dissemination and implementation activities to early morning, when the warning dawn of the mosque broke the stillness of the night in the village sepih Fortress.

When Fortress Field opened

    Until Saturday Night (18/06/2014) prepared the ground for the motion of the community began to fill with the community. Tonight the opening procession and field fencing done by 13 people TWI.

    The four corners are occupied citizens of TWI in green. Mediated some costumed residents ridden several colors black waist belt Guardian Tread Indonesian greatness.



     Automatic field formations formed dozens of prospective residents to enter the field of motion at the foot of the mountain fortress. Sudden scent menyerbak in the field, some promising results jempretan camera lens caught occult phenomena. Raises the question melihatnnya.



     Two hours over a couple of minutes of motion activity is completed, some time toward the end of the public

'm treated. Dark Fortress village back on the clock ten o'clock at night. But all ended a few candidates and the public visiting the home Ustaz Ruslan return to dialogue and want to accelerate the motion control.

     Not feel the time time keeps rolling concatenated with the dawn of time both nights at the Citadel, strengthening momentum silaturrahmi TWI with local residents.

The second night Motion

    Suspended in order to deal departure motion stabilization prospective second night increased. After Taraweeh prayer promptly at 8.00 pm dikomdani motion field by Fauzhiyanto were held. The second night, the motion pattern fleet more effectively implemented by coordinator Kramat Ampana Faruk Mardjun, MMG. That makes the candidate does not want to quit, but time nevertheless should end the evening activities.

When citizens marched Round

Hopefully met way back in the other records ...

Small entourage headed Fauzhiyanto departs at 06.00 am, while the other group had to be escorted by outboard boat belonging to village heads and Ustaz Ruslan Fortress kedesa Kabalutan, because these days no one stopped the ship in port Fortress.

11:00 pm Motor boats clouds overshadow the sky Kepuluan Togean impede the natural heat. Two timber ships son weighs 20 tons dinakodai Man who drove into Ampana.

Entering the port Ampana

back down with torrential rain greeted kedatangaan Indonesian citizens Guardian Tread ... dipelabuhan Labuan split into their homes met again with his beloved family, may meet the following visit to stabilization TWI Togean Islands ... Aamiin ...
  

Sabtu, 07 Juni 2014

PENDADARAN CALON DAN WARGA TWI AMPANA

Sabtu Malam 06 Juni 2014 bertempat dilapangan Kramat Ampana calon maupun warga Paguyuban Seni Beladiri Pernapasan Tapak Wali Indonesia (TWI) mengikuti Pendadaran (Ujian Fisik) sebelum diwisuda menjadi Warga TWI maupun yang naik tataran.

Hujan dari petang hingga pukul 20.15 wita baru berhenti bukan menjadi halangan bagi untuk pelaksanaan Agenda Wajib dalam Tapak Wali Indonesia. Sejak Sore hari lapngan sudah dibenahi, beberapa buah lampu ditambah agar lokasi pendadaran terang benderang. Pendadran yang berlansung hinggpukul 02.00 wita berlangsung aman dan tertip. Dimana kegiatan dihadiri oleh sekretaris Komda Sulawesi Tengah Muhlis Raya MMG dan sejumlah pengurus ranting Kabupaten Tojo Una-Una.

Hingga hari ini panitia pelaksana sedang menyiapkan sarana dan prasarana untuk kegiatan Pewisudahan yang dijadwalkan sebentar malam.

MAMPIR LOKASI WISATA TAMBURASI



                                                       SUNGAI TERPENDEK DIDUNIA

Saatnya kembali KeKampung Halaman
    Panorama tiga dimensi melatari lokasi  wisata Tamburasi yang memiliki keunikan tersendiri, seperti yang diinformasikan masyarakat setempat memiliki bahwa Sungai Tamburasi adalah sungai terpendek didunia. Lokasi wisata menyimpan  keunikan tersendiri   yang terletak didesa Tamburasi  Kecamatan Wolo Kabupaten Kolaka.

  Sekitar seratus meter dari pintu gerbang mengalir
Titian Menuju Hamparan Pasir
sungai yang jernih airnya searah dengan ruas jalan dibalik pintu gerbang. Sumber air dari balik batu cadas yang terjal, mengisi wadah kolam yang berdiameter sekitar 20 meter. Kontur tanh lebih tinggi dengan permukaan air kolam. Beberapa anak tangga beton sebagai sarana penghubung.
  Akar beringin menjuntai laksana rambut bidadari, unik terlihat ditiap akar yang merayap diatas batu dipenuhi simpul tali rapiah berbagai warna. Konon ikatan itu sengaja  dibuat oleh muda mudi menghakekatkan niat dalam hati.
Sumber Air Sungai Tamburasi
Diseberang aliran sungai, hamparan pasir  yang  memanjang yang sering digunakan bocah cilik bermain bola atau berlarian menjelang petang. Ingatanku mengenang kembali pantai selatan parang tritis atau pantai kute Bali. Meskipun masing-masing lokasi wisata tersebut memiliki keunggulan tersendiri.  

   Menuju Tamburasi dapat ditempuh dengan kenderaan roda empat sekitar 45 menit perjalanan dari ibu kota kolaka. Lokasi dikaki gunung yang dilintasi jalan utama sebagai urat nadi yang membelah propinsi Sulawesi Tenggara, selain jalur yang melewati Kabupaten Morowali.

    Memasuki areal wisata, kenderaan harus diparkir didepan gerbang yang dijaga oleh
petugas. Setiap pengunjung diwajibkan membayar ongkos masuk sebesar lima ribu rupiah. Sebelah kiri pintu masuk, bangunan kayu yang sudah tidak terawat. Kios-kios kecil menjual makanan dan minuman  berjajar didepan jalan setapak menuju lokasi permandian. Sapaan ramah dan senyum bersahabat dari para pemilik kios menyambut saya sepanjang jalan menuju sumber air. 

Lembayung Senja di Tamburasi
   Sebelah kiri mengalir air jernih dibatasi hamparan pasir memisahkan aliran air tawar dengan bibir pantai. Masyarakat sekitar sengaja membangun jembatan kayu menghubungkan hamparan pasir dengan  daratan.
    Dari lokasi ini para pengujung dapat menikmati lembayung senja mengantar sangsurya keperaduannya, indahnya panorama yang membuat turis asing berdecak kagum yang tergila-gila dengan  sunset.

    Dibantaran sungai masyarakat menyediakan benan (ban dalam mobil) bagi pengunjung
Simpul Kenangan
yang suka menyusuri aliran sungai atau suka berapung diatas air yang membual dari bali batu yang menjadi sumber air sungai terpendek tersebut.

  
Sang Jawara ingat masa Lampau
Persaudaraan
Saya menuju salah satu kios dekat pintu gerbang untuk mencicipi kopi dan kue Baje, sejenis panganan terbuat dari beras ketan dicampur gula merah dan parutan kelapa. Nikmat terasa, menikmati makanan ringan dibawah rimbunnya pohon beringin sambil dihembus  angin pantai yang sepoi-sopoi.
  Satu jam lamanya saya mereguh kenikmatan sang pencipta, hingga saya harus berarah pulang melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Kolaka Utara dengan daya tempuh 3 sampai 4 jam lagi.

Ketika langkah berarah pulang




   
Saat Pengukuhan DAN III Atas Angk. Ke VI thn. 2014
Untuk ke enam kalinya pelaksanaan pengukuhan DAN III Atas warga Paguyuban seni Beladiri Tapak Wali Indonesia yang dikenal juga dikenal dengan sebutan TWI.

    Gelar Magister Muchtahul Gyube (MMG) telah dianugerahkan oleh Yang Mulia Guru besar Syekh H. Azis, BE, SE, MMG. Bagi  setiap warga TWI  yang telah menyelesaikan program pelatihan dan pendidikan spitual ilmu kebatinan dibeberapa padepokan yang tersebar di nusantara.
   
    Waktu terus berdentang hingga mengantar pada penghujung  kegiatan dan setiap warga
harus berarah pulang kekampung halaman,  membawa makna dan kesan dalam, teramat sulit dilukiskan dengan kata. Hari keberangkatan pulang adalah langkah awal, jejak sang master TWI, untuk menyebarkan ilmu yang diperoleh, guna kemakmuran alam semesta berserta isinya. Jiwa yang kokoh tak lagi mengenal teman maupun orang yang memusuhi, karena pada hakekatnya mereka adalah manusia yang harus diberi pertolongan ketika mereka membutuhkan. Kemulian dan cara bijak sang pendekar harus mengemuka, guna menolong diri sendiri, keluarga dan orang lain tanpa harus memandang status.

  
Ratusan kilometer berulang akan dilalui dengan tegar, pintu masuk Padepokan pusat  TWI Kendari sudah hilang saat mobil, belok kiri mengarah pulang memasuki salah satu ruas jalan utama di kota kendari.
Masih dibawah komando ketua Komda Andi Jamil, MMG iring-iringan mobil meninggalkan pintu masuk kota kendari menuju Kabupaten Kolaka. Beberapa kenderaan roda dua dan mobil, terpaksa meninggalkan barisan mobil karena arah pulang tidak lagi sama. Lambayan tangan persaudaraan hangat merasuki, sembari mengucapkan kata “jumpa lagi  tahun depan saudaraku.” Ditutup dengan bunyi klakson mobil tanda pisah. Tiba di Kolaka kami di jamu makan dipadepokan, sesudahnya saya dan teman-teman ngopi didepan jalan menuju padepokan. Perjalan dilanjutkan kembali dan mampir di Lokasi permandian Taburasi. Hingga sore hari kami tiba di Kabupaten Kolaka tepatnya di padepokan.

   Perjalanan masih panjang membentang, tak jauh dari pos pemeriksaan perbatasan

Kabupaten Poso dan Sulawesi Selatan, sebuah mobil truk jatuh tapi tidak sampai kedasar jurang. Salah satu teman melaporkan kejadian kecelakaan tersebut di Pos Polisi. Peta GPS menandakan kami sedang menyisir di tepian danau poso maka pada simpang desa Pendolo kami belok kiri ingin menikmati suadana danau diwaktu malam, namun hujan rintik yang menharuskan melanjutkan perjalanan. Kesan dalam hati saya, kondisi air danau Poso masih tetap jernih. Namun kami bertekat ingin kembali menikmati danauPoso di Tentena nanti meskipun ditengah malam.

   Namun di ruas jalan desa Taripa kami terpaksa berhenti, Antrian panjang kenderaan
Menunggu Antrian di Desa Taripa
menunggu jalan dibuka pada pukul 23.00 wita. Yang kemudiam jadwal bergeser 10 menit, baru  mobil yang saya tumpangi melaju kembali.

   Dipersimpangan kota Tentena mobil mengarah ke kota Tentena, cukup lama kaki saya tidak pernah menginjakan dilokasi yang ramai ketika vestifal danau Poso digelar.
Keinginan bisa melintasi jembatan kayu yang panjang, tetapi gerbangnya diperkecil agar tidak bisa dilalui kenderaan roda empat. Sebagai gantinya, jembatan beton dibangun dihulu  sekitar 100 meter. Dalam keremangan Kami melintasinya dan belok kembali setelah tiba diseberang.
Kota Tentena adalah kota kenangan yang menyimpan bagian perjalanku puluhan tahun
silam. Dua ratusan kilometer lagi harus dilalui hingga menjelang fajar, kami tiba dipintu gerbang Ibu Kota kabupaten (Malotong). Satu persatu warga TWI tiba dirumahnya untuk istirahat setelah perjalan yang melelahkan, namun membawa semangat untuk hari esok...Entah tahun besok pada kegiatan yang sama dalam moment yang berbeda,  akankah bersua kembali...

MOMENTUM PERINGATAN ISRA MI'RAJ DAN III ATAS DIKUKUHKAN




   
Suasana Peringata Isra Mi'raj di Islamic Centre Kendari
Selasa malam 26 Mei 2014 sekitar pukul 19.30 warga Paguyuban Seni Beladiri Pernapasan Tapak Wali Indonesia (TWI) memadati gedung Islamic Centre Kendari. Ratusan mengunakan pangsi hijau penyandang gelar Magister Muchtahul Guyube (MMG), sedang yang mengunakan pangsi Hitam adalah warga TWI yang akan dikukuhkan besok malam.
      Saat warga Dan III Atas yang akan dikukuhkan mengikuti gladi bersih dalam ruang Islamic Centre, para warga TWI berseragam Pangsi Hijau, melakukan gerak dipelantaran parkir yang cukup luas.

    Separuh malam warga yang akan dikukuhkan diarahkan kelapangan Parkir bergabung
dengan para MMG, untuk melakukan gerak pengendalian hingga tahap PAG. Seluruh sudut-sudat lapangan dijaga ketat oleh ratusan MMG dan sebagian mengambil posisi diantara pada warga yang berpangsi hitam. Lapangan disterilkan agar  Gerak TT tidak dapat dilihat oleh warga dibawah tataran Dan III Atas maupun yang bukan warga. Gerak TT adalah gerak DAN III Atas sebelum  di kukuhkan  dalam gelar MMG. Rangkaian kegiatan gerak malam itu berlangsung selama dua jam, selanjutnya kembali ketempat masing-masing menanti saat pengkuhan pada peringatan Isra Mij’raz bertepatan tanggal 27 Mei 2014. yang tertinggal digedung Islamic Centre hanya panitia yang masih terus membenahi  gedung hingga dini hari.

Rabu Malam  27 Mei 2014 sekitar pukul 19.00 ruangan Islamic Center mulai dipadati undangan maupun para wisudahan. diatas panggung dilatari  puluhan piala, samir dan tas berisi baju pangsi Hijau dan bingkai foto. Para wartawan berbagai Media cetak dan elektoronik mengambil tempat stategis untuk pengambilan gambar disamping para juru foto yang ditugaskan panita pelaksana kegiatan.

    Para undangan dan perwakilan pemerintah daerah Propinsi maupun pihak Kementrian Agama sudah mengisi sofa yang disiapkan panitia. Para wisudawan sebanyak 197 dialokasikan disayap  kanan ruangan posisi menghadap kekursi undangan. Sementara ditenda luar bagian kanan gedung sudah dipadati undangan pula.

    Seluruh isi gedung dan luar gedung berdiri,  saat Yang Mulia Guru Besar Syeikh H. Azis,
Warga TWI DAN III yang di Kukuhkan
BE, SE, MMG memasuki ruang pengukuhan, yang  menempati kursi deratan depan.  Seluruh rangkaian acara selesai ditutup dengan kegiatan pengambil gambar setiap komda  bersama guru besar dan Majelis Sabuk Hitam.  

    Kamis 28 Mei 2014 Ketika fajar menyingsing,  sekretariat pusat TWI  mulai dipadati warga TWI, dalam rangka mengikuti pelepasan warga TWI kembali kedaerah masing-masing oleh Guru Besar Tapak Wali Indonesia, namun sebelumnya pihak panitia telah menyiapkan sarapan. Hingga dengan demikian seluruh rangkaian pengukuhan DAN III Atas angkatan ke VI selesai. 


    Gelar bukan penghujung bagi seseorang menuntut ilmu di Tapak Wali Indonesia, namun ini merupakan awal sebuah pengabdian guna menyumbangkan ilmu yang diperoleh untuk dimanfaatkan pada jalan  kebaikan. Bekal ilmu Tapak Wali Indonesia diperoleh dimaanfaatkan untuk menolong diri sendiri,  baik baik bagi  diri sendiri, keluarga maupun orang lain.
    



Seuntai kata “ Sebaik-baiknya warga TWI
adalah mereka yang patuh dan tunduk selalu pada Pedoman Suci Paguyuban Seni Bela diri Tapak Wakli Indonesia.”  Insya Allah...

Jumat, 06 Juni 2014

RATUSAN KILOMETER MENUJU SULAWESI TENGGARA






 Menelusuri  Jalan  Basah
    Sejak tanggal 25 Mei 2014 warga Paguyuban Seni Beladiri pernapasan Tapak Wali Indonesia (TWI) berbagai warga Komisariat daerah (Komda) / propinsi di Indonesia berdatangan ke Kota Kendari ibu kota Sulawesi Tenggara. Baik yang mempergunakan kendaraan roda dua, roda empat maupun pesawat udara.

    Dari Komda Sulawesi Tengah, mengirim 13 warga DAN III Atas yang akan dikukuhkan masing-masing  2 warga dari lapangan Maleali kabupaten Parigi Moutong,  3 Warga dari lapangan Beringin kecamatan Ulubongka dan 8 warga dari Lapangan   Kramat Ampana Kabupaten Tojo Una-una.

    Sekitar 900 kilometer yang akan dilalui mengikuti lekuk bumi dan kaki pengunungan.
Beberapa ruas jalan sementara dalam pembenahan, hingga rata-rata kenderaan berlumur lumpur. Rombongan  Ampana  dengan dua mobil berangkat Senin malam 24 Mei 2014 sekitar pukul 20.00 wita, dilepas warga TWI Lapangan Kramat yang pada malam yang sama mengisi jadwal gerak. Syahdu terasa menerima jabatan tangan mengucapkan kata, selamat jalan semoga selamat hingga ditujuan, bahkan beberapa warga sempat menitik air mata haru.

   24 Mei 2014 Pukul 05.30 pagi saat mentari masih memerah diufuk timur, dua kenderaan
Simpang Tiga Kendari - Makasar
melaju tanpa henti, memasuki Tarengge simpang tiga Propinsi Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan. Disisi jalan depan mesjid Tarengge, sudah terparkir mobil yang ditumpangi lima warga Marowo dan Maleali. Hindangan kopi hangat dan supermie menjadi menu pada dinginnya pagi di Mangkutana.

   Jam tangan menujuk 7.45 saat 3 mobil harus bergerak lagi menuju Kabupaten Kolaka Utara dengan daya tempuh 5 jam perjalan kenderaan roda empat.  Kolaka
Mesjid Agung Kolaka Utara
Utara pemekaran kabupaten Kolaka, disana berdiri padepokan Tapak Wali Indonesia, yang memiliki warga TWI sebanyak enam ribuan warga. Kehadiran Warga Tapak Wali Padepokan Kramat Ampana  diterima di Padepokan Kolaka Utara, hindangan makanan dan teh manis sudah tersedia, menanti warga satu persatu membersihkan diri. Persaudaraan Tapak Wali sangat kental ketika saling bertemu dan menyapa, bertukar pengalaman dalam pengembangan warga Tapak Wali Indonesia.
  
   Pelataran parkir Padepokan TWI Kolaka
Warga TWI Komda Sulteng
Utara mulai dipenuhi mobil warga TWI setempat, bergabung dalam perjalanan yang panjang ke Kota Kolaka yang komandani  Bpk Andi Jamal, MMG ketua yang membawahi Komda Kolaka, Kolaka Utara dan Komda Sulawesi Tengah.
  
     Dalam perjalan ke Kolaka, kami diajak ketua Komda Andi Jamil, MMG melewati jalur
Gerbang Batas Malili - Kolut
pantai Kolaka Utara, bentang panorama sangat menawan dilatari oleh Mesjid Agung beratap keemasan. Pusat wisata pantai yang sukup asri, hingga kepusat perkantoran pemerintahan Kabupaten Kolaka Utara. Penataan infrastruktur dan penataan kota baru ini,  cukup elok mengoda hati para warga TWI dari luar kota Kolaka Utara mengabadikan dalam kamera masing-masing. sungguh panorama yang menawan, diatas langit keindahan pelangi membentang melengkapi anugerah sang pencipta...menyambut kemuning senja...

 
Memasuki kota kolaka, sepanjang pantai disenja hari sangat menawan mengantar iringan mobil kepusat kota. Keramaian malam mulai menelan iringan kenderaan yang cukup panjang memasuki halamam padepokan Kolaka. Warga  TWI semakin memadati padepokan Kolaka yang memiliki limabelas ribuan Warga dan beberapa pengurus TWI Kolaka Utara malam itu makan bersama.
  
Menlusuri jalan panjang DN 432 L
Malam itu pula 1 mobil yang ditupangi warta TWI Marowo dan Maleali dan  sebagian warga yang mengunakan motor dan kenderaan roda empat melanjutkan perjalanan kekendari. Sementara  sebagian besar menunggu pagi termasuk dua mobil yang ditumpangi 8 warga TWI Ampana yang kembali dipimpin oleh Bpk Andi Jamil, MMG. 
 
Selasa 25 Mei 2014 rangkaian kenderaan roda empat sekitar pukul 02.00 wita memasuki kota kendari, menuju sekretariat pusat. Disana sudah dipadati kenderaan dan warga TWI.
Warga TWI Kolaka Utara dan Ampana diarahkan ke rumah yang telah disiapkan panitia di daerah Perumnas Poasia sekitar 5 kilometer dari sekretariat pusat, tak jauh tempat itu sedang dibangun asrama berlantai empat dengan kapasitas empat puluh kamar, guna  menampung warga TWI ketika pengukuhan pada waktu  yang akan datang.